Saturday, February 10, 2007

Parahkah Inferiority Complex Wong Wonogiri ?

Dikirimkan : Jumat, 9 Februari 2007


Obrolan sana sini dari Wonogiri dengan Mas Broto dan Mas Sidik Sutikno , juga Warga WNA Di Mana pun Anda Berada.


Salam sejahtera. Terima kasih Mas Broto dan Mas Sidik untuk email Anda. Isinya menarik, dan bagi saya rasanya Internet itu terus saja memberikan keajaiban. Termasuk kini, saya bisa mengenal Anda. Walau secara formal memang belum, tetapi karena kita punya sesuatu ikatan, yaitu terkait asal muasal yang sama, juga riwayat hidup yang sebenarnya sudah saling bersinggungan, maka beda jarak km atau pun waktu antara kita sepertinya sudah menjadi nol.

Internet merupakan sarana ampuh untuk melakukan regrouping semacam itu. Ibaratnya kita bisa mendirikan lagi jiwa dan kota Wonogiri, di dunia maya, di mana akses masuknya kini relatif lebih sedikit handicapnya dibanding dunia yang fisik. Dengan kemampuan dan kecakapan yang masih terbatas, saya ingin menuju ke arah cita-cita itu.

Menurut saya sih, banyak Wong Wonogiri (WW) yang pantas menjadi teladan dan bisa dibanggakan. Tetapi cerita tentang sukses itu tersebar-sebar, tidak pula dicatat dengan baik, dan sulit untuk ditemukan lagi. Nah kini, dengan hadirnya Internet, bisa menjadi solusi itu.

Saya usulkan, agar Mas Broto dan Mas Sidik dkk, bikin blog. Apa sudah ? Engga ada guru tata bahasa atau polisi yang bakal memberi penalti, dengan blog kita bisa menulis sesuka kita. Jadi bila orang nanti mengetikkan “Wonogiri” di Google, akan muncul data-data yang riuh, warna-warni, tentang Wonogiri.

Upaya di atas, hemat saya, termasuk sebagai salah satu upaya mengikis belitan inferiority feeling dalam diri Wong Wonogiri (WW), di mana contoh aktual dan jenialnya telah diilustrasikan oleh Mas Sidik. Cerita yang menarik, lucu, karena kita bisa sekaligus menertawakan diri kita sendiri.

Mari kita kikis rasa minder itu. Sebab di dunia digital, Wonogiri hanya dipisahkan oleh klik dan klik dari Waterloo, Wamena, Walikukun, Wiesbaden, Wichita atau pun Wisconsin. Michael Jackson dkk kan pernah bilang, “we are the world...”

Perasaan minder sebagai Wong Wonogiri (WW), mungkin karena masalah kepraktisan dan ekonomi bahasa. Orang nyebut “Solo” (2 suku kata) itu lebih hemat dibanding menyebut “Wonogiri” (4 suku kata). Mungkin juga lebih merdu ? Apalagi abjad “S” itu lebih dulu urutannya dibanding abjad “W,” bukan ?

Mungkin si orang minder bersangkutan memang canggih dalam ilmu geografi, sejarah dan kuat memorinya. Coba, bila mas konsultan WW yang ditemui Mas Sidik di Batam itu “nekad” terus mengaku sebagai Wong Solo, lalu di-dedes sana-sini secara detil tentang area kota Solo atau penduduknya, pasti ia punya kemahiran menguasai geografi kota Solo untuk mempertahankan status asalnya.

Kalau engga mampu, ya ia kita beri gelar saja sebagai ahli geo-glagepan...Suatu saat, topik ini akan saya coba tulis di blog The Morning Walker (http://wonogirinews24.blogspot.com) mendatang.

Mas Broto,
Koreksi Anda tentang SMPN 3 saya terima. Tetapi sekolah yang sederet dengan SMP Kanisius di Kajen itu, kini jadi kantor Dinas Pendidikan. Jadi SMPN 3 ya persis saya tulis di blog saya itu, di Sukorejo atau Jetis itu. Keponakan saya sekolahnya di sana.

Tentang Bu Harni yang guru geografi (di SMAN 1 apa beliau disebut sebagai Ibu Sukiyo ?), masih sehat. Masih ada hubungan famili sih, dari ibu saya, yang sama-sama asli Sukoharjo. Tetapi suami beliau, Pak Sukiyo, telah sedo. Email putranya, Mas Anto (ekoharys@yahoo.com) yang kini bekerja di Air Mancur, Solo.

Pak Nirsatmo ? Maaf, saya tidak tahu beliau. Kebetulan saya tidak bersekolah tingkat SMA di Wonogiri. Rumah saya, Kantor Penerangan (kini Dinas pasar), ke timur melewati dua perempatan, lalu 3 rumah, selatan jalan. Tanya rumahnya Basnendar (basnendart@yahoo.com, walau ia kini tinggal di Solo dan lagi sekolah di ITB), banyak orang akan lebih tahu dibanding menanyakan nama saya.

Semoga obrolan ini bermanfaat bagi Mas Broto. Di Jakarta, semoga engga ikutan kena banjir. Kalau sempat ikut nonton wayang di UI, saya dibocorin cerita atau foto-fotonya, ya ? Terima kasih.


Mas Sidik,
Maaf, Anda sekarang ada di kota mana ? Apa masih di Batam ? Broto Happy W. (brotohappy@yahoo.com), bolak-balik ke Batam. Ia kini tinggal di Bogor. Masih di Tabloid BOLA. Kalau ia kencing, maka Jakarta pun banjir.

Sungguh menarik membaca cerita tentang karir mengkartun Anda. Saya iri lho sama orang yang bisa bikin kartun. Seisi rumah Kajen, walau kadang punya gagasan yang kira-kira lucu, tetapi hanya saya sendiri yang engga bisa bikin kartun. Yo wislah. Apa aktivitas mengartun Anda masih bisa dibangkitkan lagi ? Karya Mas Sidik pernah muncul di Bola, pasti sudah termasuk kelas kartun yang berbobot. Mengenai Persiwi, maaf, saya tidak tahu di mana posisinya sekarang.

Oklah, sekian dulu kabar dan balasan saya dari Wonogiri.
Sukses selalu, karena slogan kota kita memang “Wonogiri Sukses.”

Salam saya,


Bambang Haryanto

PS : Beberapa saat lalu saya kirim obrolan ke boss Pakari (Mas Sarnen Sujarwadi) dan kawan-kawan, yang bersemangat membangun citra Wonogiri. Pakari adalah salah satu pilar pendukung acara wayangan dan pasar malam WW di UI, 17/2/2007 mendatang. Email itu saya sertakan ya ? Moga berguna.

No comments: